Di tengah berbagai tantangan dan konflik yang melanda wilayah tersebut, pendidikan tetap menjadi prioritas bagi rakyat Palestina. Salah satu bukti nyata dari komitmen mereka terhadap pendidikan adalah Birzeit University, yang berdiri sejak 1924. Terletak di kota Birzeit, dekat Ramallah (yang sekarang sudah diduduki Israel), universitas ini memainkan peran penting dalam pendidikan di Palestina.
![]() |
| Birzeit University masih kokoh berdiri karena berada dalam wilayah penjajah Israel. |
Tahun ini adalah tahun kedua tidak ada kegiatan belajar mengajar di Gaza. Sebagian besar infrastruktur pendidikan telah rusak atau hancur lebur akibat perang yang sedang berlangsung dengan Israel.
![]() |
| Warga Palestina berjalan melewati gedung Universitas Islam yang hancur di Kota Gaza pada 26 November 2023 (AFP/Omar El-Qattaa). |
Namun, semangat belajar masih tetap ada. Di media sosial, beberapa kaum muda membuat kelas darurat untuk mengajar anak-anak. Seperti salah satu guru, Israa Abu Mustafa yang mendirikan tenda kelas di atas reruntuhan rumahnya untuk mengajar 35 orang anak-anak (sumber: https://www.reuters.com/world/middle-east/gaza-teacher-offers-ray-hope-with-classroom-rubble-2024-09-05/).
Juga Abdallah Baraka, seorang mahasiswa ilmu komputer dari Deir al-Balah, yang berusaha menyelesaikan studinya secara online dan berharap bisa berkarir di bidang AI nantinya (sumber: https://www.dw.com/en/gaza-education-schools-universites-remain-closed-to-students-children/a-70230745).
![]() |
| Dua anak ini sedang belajar di tengah reruntuhan rumah gurunya, Israa Abu Mustafa, di Khan Younis, Gaza. REUTERS/Hatem Khaled |
Sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi Muhammad SAW, “Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim.” Hadits ini menjadi motivasi terbesar bagi mereka untuk tidak mudah menyerah dalam mengejar ilmu, walaupun mereka dihadapkan pada kebiadaban Israel setiap harinya.
![]() |
| Seorang mahasiswi belajar online karena kampusnya hancur diserang tentara Israel (screenshot youtube AlJazeera). |
Bandingkan dengan Indonesia, negara dengan populasi terbesar keempat di dunia, yang justru menghadapi masalah serius dalam hal literasi. Data dari Programme for International Student Assessment (PISA) pada tahun 2018 menunjukkan bahwa tingkat pemahaman literasi siswa Indonesia berada di peringkat 72 dari 77 negara. Salah satu faktor penyebab rendahnya tingkat literasi di Indonesia adalah akses terhadap buku dan bahan bacaan yang terbatas, kurangnya budaya membaca, serta kualitas pendidikan yang bervariasi di berbagai daerah.
Sementara di Gaza, meskipun mereka kekurangan fasilitas, semangat belajar tetap tinggi, di Indonesia justru tantangan utama terletak pada minat membaca. Pemerintah Indonesia sebenarnya telah berupaya meningkatkan literasi, seperti melalui Gerakan Literasi Nasional, namun hasilnya masih belum optimal. Kontras ini menunjukkan bahwa kunci keberhasilan dalam pendidikan bukan hanya tentang fasilitas, tetapi juga tentang sikap dan kemauan untuk terus belajar.
Di Gaza, setiap individu yang mengejar ilmu bukan hanya berjuang untuk diri sendiri, tetapi juga menjadi simbol perjuangan dan harapan. Semoga kita juga bisa meneladani semangat belajar mereka!
.jpeg)



0 Komentar