Seberapa besar pengorbananmu untuk Islam?

Pada masa awal Islam, sebagian besar sahabat Rasulullah hidup miskin. Ada yang memang miskin sejak awal atau karena telah mengorbankan kekayaan mereka untuk Islam. Meski kekurangan, hal itu tidak menghalangi mereka untuk menjadi yang terbaik dalam hal ibadah dan melakukan amal saleh untuk meraih ridha Allah Subhanahu wa ta’ala.

Ada sebuah kisah tentang seorang budak milik Abdullah bin Jad'an, yang mampu memulai bisnis dan segera menjadi kaya raya. Meskipun dia adalah seorang budak, dia dikenal karena keahliannya dalam memanah dan juga lihai menggunakan pedang. Berkat kecerdasan dan etos kerjanya yang tinggi, Abdullah bin Jad’an pun membebaskannya.

Budak itu bernama Suhayb Ar Rumi RadhiyAllahu ‘anhu. Kisahnya cukup terkenal karena banyaknya pengorbanan yang ia lakukan serta bagaimana Allah memuliakan dia atas tawar-menawar yang dia lakukan demi Islam.

Ketika Suhayb akhirnya masuk Islam dan memutuskan untuk berangkat ke Madinah, orang-orang kafir Quraisy menghalangi jalannya. Dia berjuang sampai mencapai puncak gunung tempat dia melakukan tawar-menawar dengan orang Quraisy.

Dia berkata, “Kalian semua tahu dengan baik bahwa aku yang terbaik di antara kalian dalam hal memanah, dan aku akan menggunakan semua anak panahku untuk melawan kalian dan kalian semua tahu dengan baik bahwa aku adalah yang terbaik dalam memegang pedang, jadi aku akan bertarung dengan kalian sampai pedangku patah. Tetapi jika Anda membiarkan saya pergi dengan damai, Anda semua tahu betul bahwa saya memiliki kekayaan yang sangat besar dan saya telah menyembunyikannya di beberapa tempat. Saya akan menyerahkan semua kekayaan saya dan memberi tahu Anda di mana harta tersebut disembunyikan."

Akhirnya, kaum Quraisy melepaskannya dan Suhayb menyerahkan semua kekayaannya dan melanjutkan perjalanan, dengan berjalan kaki ke Madinah.

Setelah Suhayb sampai di Madinah dan menjumpai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau langsung mengucapkan,

ربح البيع أبا يحيى.. ربح البيع أبا يحيى

“Perdagangan yang amat menguntungkan wahai Abu Yahya, perdagangan yang amat menguntungkan wahai Abu Yahya.”

Suhaib merasa heran, “Wahai Rasulullah, tidak ada seorang pun yang melihat apa yang kualami.” Beliau shallAllahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Jibril yang memberi tahuku.”

Lalu turunlah ayat,

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ وَاللَّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ

“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 207) 

Coba renungkan sejenak. Ketika saatnya tiba, siapkah kita merelakan dan mengorbankan semua yang kita miliki saat ini demi Allah seperti apa yang telah dilakukan Suhayb? Rasanya sulit untuk menyatakan bahwa kita siap.

Bahkan untuk mengeluarkan selembar lima puluh ribu untuk infaq, terasa sulit. Hati kita telah begitu terikat pada dunia. Merasa kekayaan yang kita peroleh adalah hasil kerja keras kita sendiri, sehingga kita lupa bahwa Allah-lah yang memampukan kita dan memudahkan jalan rezeki kita sedemikian rupa sehingga akhinya sampai kepada kita.

Seharusnya kita selalu ingat, bahwa apa pun yang kita dapatkan dan miliki di dunia ini asalnya dari Allah saja. Maka seharusnya kita bertanggung jawab saat membelanjakan karunia tersebut untuk membuat Allah ridha pula.

Ketika mampu memberi, jangan berpikir dua kali. Ketika mampu, ini adalah waktu terbaik untuk memberi, dibandingkan saat kita tidak memiliki apa-apa.

Sadarilah bahwa kekayaan yang kita miliki tidak ada apa-apanya di hadapan Allah. Rasulullah bersabda, ”Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada rupa kalian, juga tidak kepada harta kalian, akan tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian" (HR. Muslim)

Hati dan amal saleh. Itulah dua hal yang terpenting. Itulah yang akan ditimbang dan apa yang akan menentukan hidup kita di akhirat. Bukankah banyak kita temui orang kaya, tapi hatinya tidak pernah merasa damai? Sementara banyak orang miskin, tapi mereka memiliki hati bahagia.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

“Yang namanya kaya (ghina’) bukanlah dengan banyaknya harta (atau banyaknya kemewahan dunia). Namun yang namanya ghina’ adalah hati yang selalu merasa cukup.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Semoga Allah menjadikan kita di antara orang-orang yang tidak terbelenggu pada harta dunia. Sehingga ketika saatnya tiba, kita dapat dengan mudah berpisah darinya dan memberikannya kepada Allah.


Posting Komentar

0 Komentar