![]() |
| Ilustrasi Nabi Musa dan Khidr |
Tujuan pendidikan Islam adalah untuk membimbing manusia agar berakhlak mulia, terampil, cerdas, bertanggung jawab atas keselamatan dan kemaslahatan dirinya dan masyarakat. Ini semua bermuara kepada kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Kisah Nabi Musa dan seorang hamba yang saleh (ada yang menyebutkan beliau adalah seorang Nabi) Khidr sarat akan nilai pendidikan. Kisah ini dijelaskan dalam Al Qur'an surat Al Kahfi ayat 60-82.
فَوَجَدَا عَبْدًا مِّنْ عِبَادِنَآ ءَاتَيْنَٰهُ رَحْمَةً مِّنْ عِندِنَا وَعَلَّمْنَٰهُ مِن لَّدُنَّا عِلْمًا
"Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami." QS. Al Kahfi:65
Ketika Nabi Musa hendak berguru dengan Khidr (QS. Al Kahfi:66), salah satu syarat yang diberikan kepada beliau adalah untuk bersabar dan tidak banyak bertanya sampai Khidr sendiri yang menjelaskannya pada Nabi Musa. Dia berkata: "Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu" (QS. Al Kahfi:67-70).
Dari hal ini terlihat bahwa Khidir menggunakan metode uswah hasanah atau memberi teladan yang baik, yaitu selalu berdisiplin, menepati janji, dan sadar akan tujuan untuk memberikan pengajaran yang bernilai bagi Nabi Musa ‘alaihissalam.

0 Komentar