Berdasarkan keputusan Dekan FAI Dekan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, bahwa dalam rangka memperlancar pelaksanaan proses ujian tugas akhir mahasiswa SI dan S2, menetapkan mekanisme ujian untuk pengganti skripsi dan tesis yang meliputi ujian proposal dan ujian skripsi/tesis.
![]() |
| Flyer Acara Klinik Penulisan Artikel Ilmiah |
Tentunya kebijakan ini mempermudah mahasiswa dalam menyelesaikan studinya. "Jadi nanti tidak lagi menulis beratus-ratus halaman tesis. Cukup menulis artikel minimal 15 halaman dan dimuat di Jurnal Sinta atau Scopus. Harapannya ini bisa membuat mahasiswa pascasarjana bisa lulus dalam 3 semester atau 1,5 tahun saja," jelas Bu Dr. Eni Fariyatul F.M.Pd.I (Ketua Program Studi S2 MPI UMSIDA.
Bapak Mochammad Tanzil Multazam membuka pengantar penyusunan artikel ilmiah. "Jurnal itu kumpulan laporan penelitian. Lalu apa perbedaan Thesis dengan Jurnal/Artikel Ilmiah? Perbedaannya itu, research tetap dilakukan, namun hal-hal lain di-skip dalam bentuk tulisan yang enak dibaca," jelas beliau. "Justru karena halamannya sedikit, jadi isinya harus lebih padat. Tidak memasukkan banyak pendapat orang," tambahnya.
Cara membuat artikel ilmiah yang baik, harus memiliki 3 hal: transparant, honest, dan accountable. Ketika kita menulis artikel ilmiah, karya kita akan diuji, apakah jawaban kita bisa dipertanggung-jawabkan, jujur dan transparan ketika melakukan riset.
Ketika jurnal yang dibuat adalah hasil penelitian di institusi pendidikan sendiri, seorang peneliti harus menuliskan conflict of interest. Jadi harus objektif ketika meneliti lembaga sendiri.
Yang tidak kalah penting adalah kualitas kalimat yang ditulis saat menyusun jurnal. Saat mengutip kalimat dari buku, usahakan tidak copas. Harus di-parafrase, ubah susunan kalimat sesuai pemahaman kita sendiri. Jadi, ambil garis besar dari tulisan yang kita pilih sebagai sumber tulisan. Beliau memotivasi kami untuk tidak takut salah ketika mem-parafrase pendapat ahli.
"Tidak perlu takut ketika salah menafsirkan bacaan," kata beliau. "Seorang akademisi tidak boleh takut salah. Jangan takut menulis pendapat sendiri. Catat setiap ide yang terlintas. Manfaatkan aplikasi voice to text agar bisa produktif menulis."
Kemudian beliau memberikan beberapa tips dalam teknis penulisan jurnal. "Belajar menata tulisan dan referensi. Ketika sudah selesai, tidak boleh submit hasil artikel ke beberapa situs penerima jurnal (multiple submission)."
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penulisan jurnal
Langkah pertama sebelum memulai penelitian yaitu membuat rumusan masalah. Setelah itu, carilah referensi yang sesuai dengan melakukan Research Question (breakdown dari topik yang akan diteliti).
Buatlah judul yang menarik dan menimbulkan minat bagi pembaca. Judul harus merepresentasikan temuan menarik dari penelitian. Sample sebaiknya jangan ditulis di judul, tapi di metode penelitian.
Di beberapa kampus, begitu juga di UMSIDA, penulis wajib mencantumkan nama dosen pembimbing sebagai co-author dalam penulisan jurnal. Co-author atau Corresponding Author adalah pihak yang paling bertanggung jawab atas kualitas isi paper, atau dalam hal ini merupakan nama dosen pembimbing.
Perhatikan juga copyright atau hak cipta ketika mencantumkan gambar, bagan, tabel, atau foto. Jangan asal ambil dari internet. Harus dicek apakah ada lisensinya atau tidak. Jika perlu, penulis bisa menggambar ulang, meski esensinya sama, tapi tetap harus disitasi karena gambar atau bagan tersebut mengambil ide dari orang lain. Karena asumsi pembaca, semua isi tulisan adalah karya penulis.
Sebelum melakukan penelitian literature review, penulis harus menguasai aplikasi manager reference seperti Mendeley untuk memudahkan penulisan referensi.
Beberapa situs gratis yang bisa diandalkan untuk berburu jurnal yaitu: Lens.org, elicit.org, google scholar, academia.edu, dan lain-lain.
Umumnya, untuk penelitian literature review, minimal memiliki 25 referensi. Idealnya 50 referensi. Dari sumber yang otoritatif. Referensi dari internet manapun bisa diambil, asal dapat dipertanggungjawabkan.
Beranikan diri untuk berimprovisasi dalam penulisan artikel. Kuasai visualisasi dan teknik diksi penulisan sehingga karya kita tidak membosankan untuk dibaca.
Penulis harus memperhatikan kode etik penelitian. Ranah akademik jangan dicampuradukkan dengan ranah jurnalistik.
Kemudian, pembicara kedua, bapak Mahardika Darmawan Kusuma Wardana, dosen UMSIDA, menambahkan, "Minimal sumber referensi yang dipakai dalam penulisan terbit di jurnal yang terakreditasi SINTA 2 atau Scopus."
Selanjutnya beliau menyampaikan bahwa nanti ada pemlotingan dosen pembimbing. Jika mahasiswa ingin segera menulis untuk tugas tesis, "silakan mencari dosen yang dirasa bisa membantu penyusunan artikel," sarannya.
Kemudian, jika tulisan sudah selesai, hasil cek plagiasi total tulisan tidak boleh melebihi 20% dan kutipan dari sumber tidak boleh lebih dari 5%.


0 Komentar